Berantas Terorisme, Tanamkan Rasa Cinta Tanah Air Sejak Dini

Rektor UPA, Bastian Lubis

Memberantas bahaya laten terorisme tentu bukan perkara mudah, dibutuhkan kerja keras dan kerja sama semua pihak untuk saling bahu membahu mengatasinya.

Apalagi, keberadaannya sangat sulit terdeteksi dengan mudah. Untuk memberantas dan mengantisipasi agar keberadaannya tidak semakin meluas ke seluruh elemen kehidupan ada baiknya sejak dini ditanamkan rasa cinta tanah air.

Solusi ini dianggap Rektor Univesitas Patria Artha (UPA) Bastian Lubis menjadi salah satu solusi efektif yang penting diterapkan. Mengingat, saat ini memang rasa cinta tanah air utamanya dalam penerapan keilmuan di dunia pendidikan sudah sangat minim.

Terlebih, saat ini mata pelajaran pendidikan moral pancasila sudah tidak lagi menjadi mata ajaran utama didunia pendidikan. Bahkan, menjadi salah satu pilihan saja dalam dunia pendidikan apakah diterapkan atau tidak.

“Menanamkan rasa cinta tanah air ke anak sejak dini itu sangat penting, supaya ingatan mereka kuat akan rasa nasionalisme dan kebangsaan. Karena, jika baru pada menjelang masuk tingkatan pendidikan selanjutnya dari jenjang SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi baru diterapkan tentu akan sulit mengubah karakter mereka,” ujarnya.

Kata dia, pembentukan karakter anak sejak dini penting, karena akan terbawa terus hingga mereka dewasa.

“Dahulu anak-anak dilatih secara fisik, jadi sistem baris berbaris, hormat, cintai adek letting dan tentu itu perlu kembali dimasuk dikurikulum,” tuturnya.

Bahkan, kalau perlu ada mata kuliah bela negara dan wajib diterapkan di lini pendidikan dan pembelajaran.

“Kami di Universitas Patria Artha (UPA) sudah sejak lama menerapkan pola pendidikan karakter kebangsaan. Bahkan, sudah dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler pada semester 1 sampai semester akhir,”katanya.

Bastian Lubis menegaskan, segala pola pembelajaran rasa cinta tanah air dan wawasan kebangsaan tentunya tidak saja diberikan secara teori. Tapi juga, perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena, saat ini yang terjadi banyak teori wawasan kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Namun, sebaliknya, pemimpin tidak mampu menunjukkan semua itu ke bawah. Jadinya, tak ada yang dijadikan contoh atau panutan.

Nah, pola teori dan praktek cinta tanah air dan wawasan kebangsaan inilah yang keduanya diterapkan dengan baik di civitas akademika UPA.

“Makanya, kami pastikan di UPA itu tidak ada yang namanya kegiatan kemahasiswaan yang arahnya mendoktrin mahasiswa untuk melakukan tindakan melenceng. Sebaliknya, mereka didorong untuk senantiasa berprestasi dan mengharuman nama kampus,”tuturnya. (SDM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *