Menggugat Sistem Pendidikan di Indonesia

Bastian Lubies, S.E., MM.(Rektor Universitas Patria Artha)

Bastian Lubies, S.E., MM.(Rektor Universitas Patria Artha). (doc/UPA)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sudah kita rayakan. Namun, masih ada beberapa hal yang menjadi PR pemerintah dan seluruh praktisi dan aktivis pendidikan.

Salah satunya adalah sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem sentralisasi baik itu secara kurikulum maupun secara administratif. Hal ini lah yang disampaikan rekor Univerisitas Patria Artha, Bastian Lubis.

Merayakan Hari Pendidikan Nasional kata Bastian harus dengan melakukan perubahan. Seharusnya, hari pendidikan digunakan untuk merefleksi kembali, apakah sistem yang digunakan selama ini sudah benar.

“Kurikulum yang kita pakai kan masih hasil cetakan pusat. Padahal tidak semuanya cocok dengan kondisi di daerah-daerah. Harusnya, kurikulum yang digunakan itu berbasis muatan lokal dan disesuaikan kebutuhan peserta didik di masing-masing wilayah, ” katanya.

Bastian melanjutkan, kondisi saat ini, utamanya di perguruan tinggi pun sama menghawatirkan. Terkait urusan administrasi, masing terlalu banyak yang memberatkan perguruan tinggi. Misalnya administrasi perizinan pembuatan kegiatan yang masih harus dilaporkan ke pusat.

“Kementrian harusnya mempertimbangkan itu, kita jadi sulit bergerak. Harusnya diberikan otoritas kepada masing-masing wilayah, ” katanya.

Terakhir, kata Bastian, yang tidak kalah urgen adalah pembagian bantuan dana pendidikan yanh tidak sebanding antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta.

“Bayangkan, di Perguruan tinggi swasta mahasiswanya menyerap lebih dari 90 persen tapi dana bantuannya 90 persen lebih justru dialihkan ke perguruan tinggi negeri. Kan tidak adil rasanya,” tutupnya. (NUU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *