Demonstrasi dan Mahasiswa UPA

Ketua Mapala Eternal UPA, Muh Dwiyanto Putra

Demonstrasi merupakan salah satu cara yang digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Salah satu yang paling sering menggunakan metode ini adalah buruh dan mahasiswa.

Di kalangan mahasiswa, demostrasi digelar sebagai bentuk protes terhadap kebijakan internal kampus maupun kebijakan pemerintah secara umum.

Seiring dengan berjalannya waktu, muncul protes-protes dari masyarakat bahwa saat ini, demonstrasi tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian.

Bahkan masyarakat yang diperjuangkan pun kadang merasa terganggu sendiri dengan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Alasannya? Mereka menyebabkan kemacetan.

Lalu apa kata mahasiswa terhadap hal tersebut? Salah satu pendapat hadir dari ketua UKM Mapala Universitas Patria Artha, Muh Dwiyanto Putra.

Mahasiswa Teknik Informatika, UPA, angkatan 2014 ini berpendapat bahwa, menurutnya, masih cukup relevan ketika mahasiswa melakukan aksi demo dengan tutup jalan.

Karena jika tidak dengan cara seperti itu, terkadang apa yang menjadi tuntutan mereka tidak akan didengar oleh pihak yang dituntut.

“Paling tidak mereka disadari keberadaannya dulu. Paling tidak apa yang menjadi tuntutan di dengar oleh mereka sang pemangku kebijakan,” katanya.

Namun, kata Anto, sapaannya, sebaiknya sebelum mengambil jalan untuk berdemonstrasi sebaiknya pihak mahasiswa melakukan mediasi dulu ke pihak yang akan dijadikan target tuntutan. Mereka harus mempunya gambaran yang jelas, maksud, tujuan dan target tuntutannya.

“Tapi menurut saya kalau dengan cara seperti ini, tidak lain dan tidak bukan, hanya janji-janji manis yang didapat, ketika sudah seperti itu wajar ketika sahabat-sahabat ku sekalian melakukan aksi demonstrasi,” katanya.

Kendati mendukung aksi demonstrasi secara umum, Anto mengaku, di kampusnya, aksi-aksi demostrasi semacam itu tidak perlu dilakukan. Pasalnya, mahasiswa, dosen dan jajaran pemimpin di UPA cenderung lebih terbuka untuk diajak berdiskusi. Bahkan, hampir seluruh keinginan mahasiswa yang positif selalu berusaha diwujudkan oleh pihak kampus.

Rektor UPA, Bastian Lubis sendiri mengatakan, pihaknya tidak pernah melarang mahasiswanya untuk melalukan demostrasi. Apalagi jika dilakukan dengan cara-cara yang unik dan sopan.

“Tapi untuk apa juga demo kalau kami selalu terbuka untuk diskusi. Untuk bermusyawarah,” katanya. (NUU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *